Mesjid di Tengah Padang Tandus

9:15:00 AM


Setelah seminggu rasanya kamu tidak menghubungiku... rasanya cukup sepi... cukup sepi... 7 hari itu waktu yang lama bagiku, bukan bagimu... mungkin kamu kira seminggu itu ku gunakan untuk mencari seseorang selain kamu? Tidak pernah ku pikirkan hal itu selama kau masih bersamaku... waktu yang terbuang itu selalu ku gunakan untuk berfikir bagaimana cara membuatmu kuat tuk jalani semua ini... mendoakanmu setelah ku doakan orangtuaku membuatku merasa yakin, aku mampu, dan aku bisa jalani semua ini denganmu...
*
Kamu... yang selalu memberiku semangat terlebih lagi tentang kuliahku, meski kau hanya berkata “Pacu-Pacu”, itu sudah cukup bagiku... aku kira hidup ini kan selalu indah ketika aku berhasil melewati dua orang yang telah melenyapkan semua mimpiku, itu salahku... salahku, ketika aku tak bisa bersamamu, di sampingmu meski setiap waktu... aku tau, aku tidak seperti mereka meski aku juga inginkan semua itu... tapi inilah aku apa adanya, mungkin itu yang kamu lupakan, itu yang kau ucapkan sendiri dahulu, karena kata itulah yang membuatku selalu memperhatikanmu, aku baru menyadari ada wanita yang berkata “Bosan Diperhatikan”. Itu kamu.
**
Aku ingin kamu tau semua ini, semua status ini, suatu saat nanti... aku berusaha jadi yang terbaik mulai saat itu... merobek dan membakar kisah-kisah masa lalu yang selalu merusak fikiranku, menggelapkan mata batinku, menyengsarakan hidupku, melenyapkan masa depanku... tapi sungguh, aku tak ingin di hargai dengan cara yang tidak pantas...
Sayang... aku bukan Mesjid yang ada di tengah padang tandus, yang ketika kamu sedang melakukan perjalanan jauh ke seberang sana dan waktu Wajib telah tiba, kamu bernaung sejenak untuk shalat, setelah itu kamu pergi meski tiap waktu aku membutuhkanmu... jika aku bukan umpama dari mesjid itu, apakah aku adalah tujuanmu yang ada di seberang sana? Jika iya, pantaskah ini dengan kenyataan yang kita jalani?
***
3 Tahun bukan waktu yang singkat. Sekarang bukanlah waktu yang tepat tuk menghanyutkan mimpi besar seseorang... kini kabar gembira yang tidak ku inginkan itu terjadi lagi... aku tidak tau siapa yang kan jadi penggantiku setelah ku sadari bahwa aku hanya “Tempat Bersinggah” ketika aku berubah demi kamu, demi kebahagiaanmu meski aku harus menanggung perih di hati, kebahagiaanku ku pertaruhkan untukmu... adakah kau rasakan semua itu? Bahagia rasanya pagi kemarin... dapat mendengar suaramu lewat telfon, hanya untuk membangunkanku dari mimpi burukku... maaf, aku salah lagi... aku kira kamu membangunkanku dari mimpi burukku, tapi kamu membangunkanku untuk mimpi yang lebih buruk yang nyata, azan magrib telah berkumandang cukup lama, shalat dan mendoakanmu setelah orangtuaku sudah merasa menjadi kewajiban bagiku, sms di HP aku buka :
------------------------------------------------------------
Hari/Tanggal : Kamis, 11  September 2014.
Jam : 07.57pm
Pesan : “Jaqk mrarik aku”
------------------------------------------------------------
****
“Kusadari Betapa Sulitnya Berubah Demi Kamu, tapi Ternyata Lebih Sulit Lagi Untuk Menerima Kenyataan Ini”
Berikan aku kenangan yang indah di Pantai Selatan, sementara aku menemanimu untuk bersamanya selamanya, tapi jika kamu menemukan coretan hidupku ini setelah kau menikah dengannya... kamu cukup menelfonku, tanyakan keadaanku, tanyakan masih bisa bahagiakah aku, tapi jika kamu membalik semua pertanyaan itu, tanyakanlah apakah aku masih hidup atau mati. Nomor HP-ku selalu ada di “Keterangan Halaman Ini/Tentang Halaman Ini”. Tapi jika Tuhan masih memberikan takdir untuk kita agar selalu bersama, anggap saja bukan aku yang menulis Kisahku ini, karena...
*
*
*
Ini Dariku...
“Mesjid di Tengah Padang Tandus”

ARTIKEL SEBELUMNYA
« Prev Post
ARTIKEL SELANJUTNYA
Next Post »
Komentar Menggunakan Akun Facebook
0 Komentar Menggunakan Akun Blogger